Arsip untuk Desember, 2007

Ekspresi

Posted: 6 Desember 2007 in Uncategorized

Ada juga beberapa puisi yang saya tulis lama sebelum ini.

HENING

  

Kalau biru itu sunyi

Maka senyap berlari

 

            Kalau cinta itu biru

Pasir pun tak mampu membuatnya kelabu

 

Karena cinta tertinggi yang tumbuh

Maka akan kusuburkan dengan hujan rimbun rimba

 

            Dalam hening detik yang khusyu

            Perlahan membuka pintu-pintu kegelisahan

            Pecah, satu titik bening menetes

            Ampuni aku ya Rabb…

  

Jakarta 2004

   Syukur 

Tapak ini berpijak di tepi rimba

Mereka di tepi senapan

 

Mata ini terbuka di ujung senja

Mereka di ujung baja

 

Aku diikuti derai

Derai mereka semangat yang membara

 

Aku rindu derai cinta

Mereka mulia karena cinta

 

Cintaku cintanya

Aku ingin

pena ini senapan baginya

yang akan menggoreskan

kalimat cinta…

  

Jakarta 2004

   Episode Nur Jauh 

Malam tetap biasa

Dingin akrab selimuti kalbu senyap

Rindu sangat senyum tipis atau tebal

 

            Bis, kereta, jalanan pikuk

            Matahari larikan telapak kosong

 

Lembar-lembar cita dan mati

Kusam lalu tetap berteriak

batu

 

            Malam tetap biasa

            Dan redup berpendar nyaris tanpa bayang

            Meringkuk di pojok kebisingan

            Pahit

 

Dan malam tetap biasa

Dendang cinta

 

Tegal, 14 Juni 2004

 

Satu Hari yang Terakhir

 

Malam bergelayut rendah

Menyunggingkan senyum getir tanpa desir

Maka sekejap laut beriak dalam

Tangis bangau menyelinap ke tiap buihnya

 

            Jalanan buntu dan lari kendaraan itu

            Aku kah malam bernaung kelam?

            Lalu mentari benar seonggok sinar?

            Malamku tak bermentari

 

Ya!!

Bukankah bisa kunyalakan rembulan?

Seperti mentari yang tak kan menjelang

Seraup bintang menata ujung mata, telinga, tangan

Saat yang agung untuk bersua

Akhiri dengan kerinduan yang menyala

Bahwa aku bukan sampan

Tapi nahkoda bergelombang besar

 

            Cinta yang kuantar

            Sudah sampai…

 

Jatinangor, 19 Februari 2005

  

Wanita Tuaku

 

Aku menikahimu di enam belas tahun

Kau kala itu begitu dewasa dengan dua puluh delapan tahun

Kini kerutan wajah itu jauh lebih manis

Karena sering kau oles dengan gula dan madu

 

            Gulamu adalah pengabdian

            Madumu untaian kalimat indah di kala aku sering terlelap

 

Maka kau bidadari itu

Yang menanti di padang damai

 

Jatinangor, 20 Februari 2005

Iklan

Menggali Kembali

Posted: 6 Desember 2007 in Uncategorized

Beberapa hari lalu saya membuka-buka kembali file2 yang berserakan di note book, dan ada satu artikel yang saya temukan. Ini dia…

Kasih Sayang Sepanjang Zaman 

            Besarnya pengorbanan ibu sedari mengandung hingga membesarkan kita tak terbantahkan lagi. Segenap cinta dicurahkan demi menumbuhkan anak dalam kondisi yang terbaik; penuh rasa aman, pendidikan yang baik, serta pemenuhan segala kebutuhan yang diperlukan sang anak.

            Pun dengan ayah, yang rela bekerja membanting tulang demi melihat anaknya tersenyum dengan pakaian barunya -walau tidak semewah pakaian anak lain-, tertawa riang membawa boneka yang terbuat dari kain dan berisi kapuk, dan tertidur pulas walau hanya beralaskan tikar yang ditutup kain.

            Di luar itu, ada banyak saudara-saudara kita yang begitu sering memberikan bantuan tanpa diminta, mengingatkan kala kita mulai menyentuh mulut jurang, menghibur saat hujan lebat mengguyur tiap sudut hati kita.

            Semua terasa begitu menyayangi kita. Semua begitu memperhatikan kita. Namun bila kita coba telusuri, betapa ini semua merupakan bentuk kasih sayang tiada tara dari Yang Maha memiliki cinta. Allah SWT, yang telah menciptakan ibu terbaik bagi kita, ayah yang senantiasa melindungi, dan saudara-saudara di sekeliling kita yang selalu memberikan sesuatu penuh makna bagi kita.

            Allah lah yang menganugerahkan itu semua kepada kita. Bahkan Dia lah yang menciptakan kasih dan cinta. Maka mengapa kita masih ragu bahwa kasih dan cinta Allah senantiasa mengiring langkah kita? Bukankah seorang ibu yang kasarpun menjadi jalan bagi kita untuk selalu bersabar? Bukankah ayah yang pergi ketika kita masih sangat membutuhkannya mengajarkan kita untuk selalu tegar? Bukankah saudara-saudara di luar sana yang tak jarang menampakkan muka masam bisa menjadi ladang amal buat kita?

            Setiap saat, kapanpun, dimanapun, kasih sayang Allah selalu hadir. Sayang, tak semua dari kita mampu merasakannya sebagai kasih sayang yang begitu dahsyat. Bahkan tidak jarang, ada yang menyalahgunakan kasih dan cinta Allah. Allah melimpahkan rizki, sebagian orang malah senang berjudi. Allah karuniakan otak yang cerdas, malah menjadikan kesombongan seseorang jauh melebihi tingginya gedung-gedung pencakar langit yang mereka buat. Allah jadikan wanita indah bagi pria, pria indah bagi wanita, sebagian manusia malah menjadikannya alasan untuk merendahkan diri masing-masing dengan melakukan perbuatan yang tidak diridhoi Allah SWT. Dan yang teramat parah, Allah karuniakan orang tua yang begitu menyayangi kita, sebagian kita malah melukai hati mereka dengan kedurhakaan. Naudzubillah! Naudzubillahi mindzalik!

            Kini saatnya, mumpung cinta Allah masih besama kita. Ya, waktu, waktu adalah satu dari sekian banyak cinta Allah untuk kita. Mumpung masih ada waktu untuk memperbaiki diri, untuk mengejar rizki yang halal, untuk menebar amal di manapun dan kapanpun, untuk mempersembahkan bakti yang terindah untuk kedua orang tua kita. Detik ini juga, saatnya bagi kita untuk mengatakan dengan mulut, hati, dan tangan kita, “Allah Yang Maha Indah, aku merasakan cinta yang dahsyat ini. Izinkan aku membalasnya dengan cinta yang indah pula”.

 

Saling mengingatkan yuk!

Ada ya, orang yang hobinya menguliti manusia..memotong-motong, lalu memakannnya..yumm..

Film aneh dengan judul di atas buat saya sama anehnya dengan Quickie Express-nya Tora dkk. Manusia dipotret pada bagian yang ia berbeda dengan orang kebanyakan, yang berlaku dalam masyarakat.. Menjijikan, menggoda.

Manusia tergoda oleh yang menjijikan, sebenernya ga aneh juga. Ga aneh karena banyak yang kayak gitu, aneh..ya karena adegannya.

Manusia itu siapa? Kenapa kita merasa nikmat disaat bodoh?

Hewitt pengen punya wajah yang lebih baik: dia menguliti wajah salah satu tokoh pria (lupa namanya), terus memakaikan ke kepalanya, kayak topeng badut.

Tora dateng ke panggilan tante-yang-dimainin-Ira-Maya-Sopha, lalu mabuk seperti ayam jago saya yang baru diturunin dari kandang pas pagi2.

Siapa yang tahu, pasti, kalau lapisan ozon itu ga lebih tebel dari kulit jeruk? Siapa yang tahu kalau kematian itu hal yang paling dekat dengan kita selain Penciptanya? Cuman orang goblok kali ya yang ga tau..Mrinding ih.. Saya masih goblok ga? Kita?

Pernah nggak, kita ngalamin hal yang menggoda untuk digeneralisasikan? Kayak yang baru kemarin saya alami.. Beberapa hari lalu saya sengaja cuma ikut setengah sesi kelas CCF buat bisa baca gratis (dari sampel) buku2 di Gramedia. Niat utamanya sih buat baca bukunya Raditya Dika yang ketiga, “Radikus Makankakus.” Setelah baca bukunya yang “Cinta Brontosaurus,” saya jadi suka baca tulisan dia. Kocaknya nendang bangett (pinjem istilah Raksa)!! Ternyata sampai sana buku dia belum ada sampelnya – semua masih terbungkus plastik, rapi. Sebenernya pengen beli, tapi mahal euy, 30 ribu (bisa buat makan, beli jus, nyewa film)

Saya putusin buat ke toko buku Togamas, kali aja ada. Kalopun ga ada sampelnya, biasanya di Togamas suka ngasih diskon, jadi bisa beli dengan harga lebih murah. Sampai di Togamas mata saya langsung nembak ke arah spot buku2 baru&best seller. Bolak-balik saya liatin lagi..ko ga ada ya..jangankan sampelnya, bukunya aja ga ada.. Saya sampe keliling ke semua ruangan di toko itu tapi ga ada juga (ga sampe nyari ke toilet juga si..ato jangan-jangan??) Daripada buang waktu, saya lanjutin buat jalan (ga tau ke mana, lupa).

Beberapa hari setelah itu saya kembali ke Togamas. Ga buat nyari buku itu si. Rencananya mau ketemuan ama temen buat berangkat bareng ke acara hima di Braga. Sambil nunggu temen dateng, saya jalan2 di dalem toko, dan eeh..ko bukunya ada?? Cepetan saya liat harganya..dan..bener, meski harganya 30 ribu juga, tapi ada diskon 15%. Jadilah saya beli buku itu dengan harga 24 ribu. Lumayan kan??(dari pada lu manyun??)

Pengalaman sejenis juga sering terjadi: kalo pas sengaja ga dapet, e..pas ga sengaja malah dapet!! Nah lo, apakah itu berarti kita harus dengan tidak sengaja nglamar ke deplu biar bisa lolos kerja di sana??