Arsip untuk April, 2008

Menuju Diplomat 2008 (2009?)

Posted: 28 April 2008 in Uncategorized

Bagian 4

Beberapa hari lalu teman-teman dari Bandung datang. Mereka hendak penelitian. Datang hari Kamis, pulang lagi ke Bandung Jumat keesokannya.

***

”Kamu juga nanti enak”, kata Bu (Mbak) Ike (?) menyambut kata-kataku tentang kakak(adik?)nya.[1] Siang tadi aku baru pulang dari makan di warung dekat kosan. Untuk masuk ke kamarku, aku harus melewati semacam lorong yang memisahkan antara rumah yang satu dengan lainnya. Dan jalan sebelum lorong itu tepat berada di depan pintu salah satu rumah di sisi lorong. Pintunya kadang terbuka, kadang tertutup. Tergantung ada tidaknya orang. Namanya Bu Ike. Masih single. Seorang pekerja. Kalau ia di rumah, seorang warga sekitar yang aku lihat memang paling sering datang nyaris tidak pernah absen duduk di dalam rumah dengan menghadap pintu yang terbuka. Biasanya dia menyapaku dulu, meski sedari pintu gerbang aku sudah niatkan untuk menyapanya kalau sudah dekat nanti. Dan siang tadi ia menyapaku lagi, mengajak mengobrol dengan Bu Ike. Aku masuk ke dalam. Di situlah terjadi perbincangan, yang akhirnya aku mulai tahu sedikit tentang Ibu (Mbak) ini. Kakaknya (seingat aku ia bilang adik, tapi kalau mengikuti ceritanya kayaknya kakak lebih mungkin) ternyata seorang pegawai Deplu. Sudah 10 tahun. Sekarang sedang di Australia, dapat beasiswa dari AusAid untuk mengambil program doktoral. Mendengar cerita tentang seseorang yang telah mengalami apa yang selama ini aku impikan, aku berkomentar, ”Wah, sudah enak ya Bu, berarti, sekarang”. ”(sambil memulai senyum kecil) Kamu juga nanti enak”, jawabnya seketika. Wah, dalam hati aku bahagia sekali. Belum pernah aku menemukan orang yang begitu optimis terhadapku. Tapi lama-lama aku menyadari sesuatu…

”Kata Bu Ida kamu di Pertamina. Ternyata di Deplu.”

”Iya Bu, masih magang.”

”O magang, terus nanti ke mana?”, selidik Bu Ida.

”Ya, pulang lagi, kuliah.”

Seketika aku membaca raut muka Bu Ike yang nampaknya baru saja mendapatkan konfirmasi tentang statusku di Deplu… Mungkin saja dia pikir aku anak baru Deplu yang lagi magang. Pegawai Deplu baru setelah menjalani Sekdilu memang biasanya dimagangkan, tapi di luar. Tiba-tiba optimisku menurun…Jadi, aku pikir, mungkin saja reaksi Bu Ike begitu membahagiakan aku karena menganggap aku sudah jadi pegawai di departemen itu… ”Ya Allah, hamba memohon kepada Mu ya Allah…”


[1] Terlalu banyak informasi yang tidak jelas dengan orang ini, jadilah banyak kebingungan. Seperti misalnya, apakah benar namanya Ike? Atau Keke? Atau Mike? Yang jelas bukan Mince.

Menuju Diplomat 2008 (2009?)

Posted: 27 April 2008 in Uncategorized

Bagian 3

]Aku jadi tau bagaimana prosesi naik bajaj. Awalnya aku berpikir bahwa naik bajaj itu seperti naik angkot. Tinggal naik, bayar ketika turun, dengan tarif yang sudah tetap. Ternyata tidak begitu dengan kendaraan yang konon di seluruh negeri ini hanya ada di Jakarta. Ketika aku pulang dari Depok, dari stasiun Juanda aku yakin bahwa bajaj merupakan kendaraan yang umum digunakan untuk menuju beberapa tempat yang tidak jauh dari sana. Dan Pejambon salah satunya. Langsunglah aku mendekati salah satu bajaj yang sudah berbaris menunggu penumpang sesampainya di stasiun. Sampai pada saat aku duduk nyaman di dalamnya, aku tidak merasa aneh dengan ”langsung-masuk-dan-duduknya-aku-di-bajaj-itu, dan-senyuman-ramah-sang-sopir”. Aku katakan Pejambon, pak sopir menstater mesin…satu…dua kali, grengg…kami meluncur perlahan menuju kosanku.

Sampai di pertigaan jalan masuk ke arah kosan, bajaj berhenti. Ketika aku hendak turun, aku mulai bertanya-tanya, benarkah 3000 rupiah bayaran yang pas? ”Logika 3000 rupiah” kudapat ketika berangkat sehari sebelumnya. Dengan dua orang penumpang, setauku teman yang bersamaku hendak ke Depok juga menyerahkan 6000 rupiah ke sopir bajaj. Jika kini sendiri, berarti aku harus membayarnya hanya dengan 3000 rupiah. Tapi aku ingin pastikan. Dan ketika aku tanyakan, pak sopir bilang, ”ya…brapa lah biasanya…10.000”. Astaghfirullah…walah-walah, ini penipuan kelas teri, pikirku. Dengan nada sok PD aku bilang, ”Wah, berangkatnya aja 6000 pak, berdua. Ya udah, 5000 ya!”. ”Ya udah”. Mendengar jawaban pak sopir, langsung aku tarik uang 5000-an dari tangan, keluar dan berusaha sesegera mungkin menjauh dari bajaj yang sopirnya mulai sadar kalau bayarannya terlalu rendah itu. Pagi menjelang siang, temanku yang berangkat bersama ke Depok menelepon. Sebenarnya sedari di kereta aku sudah kirim sms, menanyakan berapa biaya naik bajaj. Tapi takdir, nampaknya temanku itu ga sadar kalau nun jauh di sana, di dalam kereta listrik yang tidak terlalu ramai, ada seorang anak muda ganteng yang harap-harap cemas menunggu jawaban. Berapa tarifnya!!!! Di telepon dia bilang, naik bajaj dari Juanda sekitar 6000 (yang aku simpulkan, ini ga bergantung pada jumlah orang yang naik!). Yah.., ga papa lah, ga terlalu jauh juga bedanya.

Keesokanharinya, aku bergegas menuju halte busway di salah satu sisi kantor Deplu. Hari itu aku punya janji bertemu dengan teh Yuher. Ia kakak kelasku di Unpad, kini sudah lulus dan sedang magang di DPR. Ia salah satu dari sekian banyak inspirator, aku akui. Tipikal wanita Sumatera Barat: mandiri dan keinginan majunya besar. Hari itu kami berencana bertemu di pameran buku-buku Islami di Senayan. Jam 10 rencananya ketemuan di halte Polda Metro. Hingga jam 10 lewat, aku masih menunggu. ”Bisnya kelamaan ngetem”, katanya menjelaskan keterlambatan. Kita berjalan masuk, dan aku sudah tidak sabar menceritakan keluh kesahku selama magang… Mulai ga ada kerjaan(selain kliping)-lah, keinginan magang di bagian lain yang lebih ”ramai”, sampai pengalamanku naik bajaj hari sebelumnya. Untuk yang terakhir, ia berkomentar layaknya seorang kakak yang mendengar kebodohan adiknya, ”Ya iyalah, semua-semua di Jakarta ni harus dipastikan sebelumnya. Pastikan berapa ongkosnya, baru naik. Emang ga pernah naik becak ya?”. Iya juga ya, di Tegal aku sudah terbiasa begitu, pastikan dulu berapa biayanya, baru aku duduk di dalam becak dan meminta tukang becak memulai petualangan kami. Bodohnya… Aku cuma bisa memastikan bahwa aku ga merasa down karenanya…karena terlalu bodoh. ”Yah, ambil pelajarannya…”, kataku dalam hati menenangkan diri sendiri.

Menuju Diplomat 2008 (2009?)

Posted: 24 April 2008 in Uncategorized

BAGIAN 2

Jam empat lewat di hari Kamis. Aku putuskan untuk mensudahi menggunting dan menempel hari itu. Aku turun dari lantai tiga tempat Aspasaf berada ke lantai satu, di mana biasanya kami anak magang yang berlima berkumpul, baik sebelum makan siang maupun pulang. Di situ tempat Pak Wahyu, pegawai Deplu yang mengurusi mahasiswa-mahasiswa magang. Ia sangat akrab dengan kami, meski awalnya kesan yang tidak menyenangkan aku rasakan darinya. Ternyata dia sangat memahami kami yang mahasiswa ini. Gaya bahasanya juga sangat pas dengan anak muda. Beliau orang baik, aku pikir.

Lisa misalnya, teman magangku dari Universitas Pancasila jurusan Hukum Internasional, pernah melakukan kesalahan saat mengetik NIP di sebuah surat. Khawatirnya bukan kepalang. Ia takut Pak Wahyu tidak suka dengan pekerjaannya. Tapi yang terjadi? Pak Wahyu tertawa, menertawakan kerjaan Lisa. Perasaan Lisa? Nah lho… Ternyata Cuma disuruh ditutup dengan kertas bagian yang salah, terus difoto kopi lagi. Itu saja. Lisa tenang.

Masih tentang jam empat lewat di hari Kamis. Lisa yang biasa pulang bareng Yuyun hari itu harus pulang sendiri ke Depok karena Yuyun dijemput oleh temannya. Hari sudah sore, aku tanyakan pada Lisa apa ia butuh teman untuk pulang. Maklum, wanita pulang sendiri sore menjelang malam dan harus naik kereta yang penuhnya minta ampun.. Aku belajar untuk berpikir layaknya orang kebanyakan. Aku tawari dia, dia terima. Aku menemaninya pulang ke Depok, tentu saja setelah aku menaruh barang-barangku di kosan, mandi, dan sholat Ashar. Aku pikir aku juga bisa bersilaturahmi sekalian ke teman-temanku di sana. Sepanjang jalan kami mengobrol, beberapa hal tentang magang- kedekatan Siti dengan penanggungjawabnya, Pak Sur itu, kerjaanku hingga hari itu yang nyaris tidak variatif, kegiatan Lisa yang memang belum mulai di P3K2 Organisasi Internasional, bagian di mana ia ditempatkan – dan beberapa hal tentang pengalaman kami masing-masing. Kereta sampai, aku bahagia bisa keluar dari ruangan pengap itu…

Lisa mengantarku ke Depok! Oh, bagaimana bisa? Aku yang berniat mengantarnya, malah ia yang mengantarku. Kami makan dulu setelah sholat Maghrib. Dan..ya ampun..Lisa mentraktir aku… Wah, gimana ya? Kalau jiwa mahasiswaku muncul, aku akan enteng-enteng saja menerimanya… Maklum, mahasiswa suka yang gratisan. Tapi aku pikir, kami sama-sama mahasiswa yang sedang magang, jadi aku khawatir memberatkannya. Dia bilang sebagai bentuk penyambutan karena telah datang ke kotanya.. Yah, aku pasrah. Aku pikir lain waktu aku bisa membalas kebaikannya.

Aku segera menuju halte UI di bawah jembatan penyeberangan. Di dekat sana dulu aku tinggal selama masa bimbingan intensif menjelang SPMB. Ini kali pertama aku mengunjungi tempat itu lagi. Aku sudah menghubungi Mbak Rihal sebelumnya. Ia bersedia bertemu dan mencarikan tumpangan menginap. Alhamdulillah, tempat Mas Afif-lah yang ada. Aku senang, karena ternyata silaturahmiku tidak hanya dengan teman-teman dari SMA ku di Tegal, tapi juga teman-temanku semasa SMA di Serang. Mas Afif tinggal di Asrama PPSDMS, karenanya aku bisa bertemu dengan teman-teman Bantenku itu. Ada Zajang dan Surya. Kami bernostalgia… Dari Tegal? Mas Openk, Mbak Rihal, dan Mas Afif menyambutku hingga larut malam.

Menuju Diplomat 2008 (2009?)

Posted: 24 April 2008 in Uncategorized

BAGIAN 1

Aku memutuskan untuk berangkat. Meski hati ini bungah tiada tara ketika mendapat balasan SMS bahwa lamaran magangku diterima, aku sempat merasakan keraguan. Apakah ini jalan yang terbaik untukku saat itu?

Minggu sebelumnya aku sudah mendatangi tempat yang akan aku singgahi dari jam 8-nan pagi hingga menjelang jam 5 selama satu bulan ke depan. Aku datang, seperti pejabat yang mensidak pasar, bertanya tentang ini-itu – tentang kos-kosan, kegiatan selama magang, dan di mana kira-kira aku bisa mendapatkan bahan skripsiku. Bayu dan Ragil menemaniku. Mereka orang Jakarta, bahkan orang tua Bayu kedua-duanya adalah pegawai di Deplu. Jadilah ketakutanku berkurang drastis. Mereka orang-orang baik, keluarga merekapun begitu. Aku tinggal di rumah kedua temanku itu. Penyambutan yang istimewa bagiku. Meski tidak sampai dilakukan upacara resmi atau tarian sambutan, apa yang mereka lakukan lebih dari sekedar penyambutan bagiku. Aku sangat terbantu. Mereka bukan orang Jakarta, kadang aku berpikir demikian. Mengapa? Orang-orang di sekitar kosanku sangat cuek, bahkan cenderung tidak menyenangkan. Aku kadang berusaha memakluminya dengan berpikir bahwa mereka hanyalah korban lingkungan – mereka harus tinggal di tengah kota tanpa menjadi bagian dari orang-orang yang memperoleh materi melimpah dari gedung-gedung yang menjulang di sekeliling mereka. Jadi, kedua temanku memang bukan orang Jakarta, karena mereka baik dan sopan.

Ruang Kantor P3K2 Amerop, BPPK, Deplu. Hampir mirip ruang Aspasaf (Amerop nampak lebih luas dan rapih)Hari pertama aku mulai masa magangku di Deplu, tidak ada yang istimewa selain harapan-harapan dan impian-impian akan menemui banyak hal yang aku suka: diskusi dengan para diplomat, mendapat tugas yang berkaitan dengan kesibukan mereka, mendapat bahan skripsi dengan mudah. Pada kenyataannya, hari pertama tidaklah seperti itu. Aku masih harus bertahan di bagian administrasi, kalau bisa kukatakan demikian. Bagian di mana aku ditempatkan, P3K2 Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf), sedang penuh orang. Umumnya anak magang dapat meja kerja layaknya pegawai sebenarnya. Tetapi karena penuh itu, dan pembimbingku di Aspasaf belum menyiapkan bahan – yang belakangan aku tau ternyata bahan itu adalah artikel-artikel koran yang harus aku kliping -, maka hari pertama aku tidak harus bertahan lama-lama di ruang Aspasaf. Hari kedua? Aku tidak datang…

Dua hari selanjutnya aku isi dengan membuat kliping. Berbeda dengan hari ketiga yang hampir sembilan puluh sembilan persen waktuku aku habiskan untuk menggunting dan menempel, di hari keempat aku mulai merasa harapan akan impian-impianku magang muncul lagi. Aku mulai berani untuk berkenalan dengan orang-orang di sana. Memang ada yang ramah, mengajakku berbicara terlebih dahulu. Ada juga yang harus aku bilang, ”Perkenalkan Mbak/ Pak, saya Budi. Saya magang di sini” terlebih dahulu baru mengajak bicara. Tapi umumnya mereka baik. Aku harap ke depan aku bisa semakin luwes berbicara dan berdiskusi dengan mereka. Aku juga ingin bisa membantu pekerjaan mereka, karena belajar bekerjalah yang sebenarnya aku inginkan. Bekerja, melakukan pekerjaan yang orang kantoran lakukan. Kantor Deplu tentunya, di bagian apapun…

Hal yang paling menegangkan hingga saat ini adalah pertemuanku dengan ibu kepala bagian. Aku khawatir tiada tara, apakah ia ramah? Apakah ia akan menyapaku? Haruskah aku memperkenalkan diri terlebih dulu? Atau tetap saja pura-pura asik menggunting-gunting koran sambil menunggu pertanyaan darinya ”Anak magang ya?”? Ketika pertama kali melihatnya, aku tidak berani melihat ke arahnya. Ia nampak sibuk kala itu. Aku mulai tidak nyaman hingga suatu ketika ia menyapaku.. ”Ini anak magang ya?” ”Iya Bu. Perkenalkan, saya Budi.” ”Dari mana?” Dari Unpad, Bu.” O ya, nanti bisa bantu-bantu pegawai di sana ya (sambil menunjuk ruangan stafnya). Selamat datang. Semoga tidak bosan.” Pfuh… Dia berlalu memasuki ruangannya yang ada di samping tempatku membuat kliping. Perasaanku? Bahagia! Dia tidak merasa terbebani, setidaknya tidak menunjukkan itu, atas keberadaanku. Itu membuatku tenang. Tapi pekerjaan kliping itu mulai membosankan. Bahkan sekretaris ibu kepala bagian pernah mengatakan kepada salah satu staf, ”Ini kasihan, kasih dia pekerjaan, mengonsep atau apalah… Kliping terus, kayak anak TK aja.” Aku tersenyum…miris.

Aku masih berharap, dan bukan tanpa alasan karena sudah ada beberapa pegawai yang berkata akan meminta bantuanku, bahwa aku bisa melakukan sesuatu untuk mereka. Tentu saja, aku sadar aku masih belajar. Aku harap bisa mengerjakan apa yang mereka minta dengan baik.