Arsip untuk Mei, 2008

Bagian 6 (habis)

Dan ternyata Bu Fitri akan berangkat! Posting? Bukan, suaminya yang ditugaskan, ke Beijing. Jadilah ia akan mengambil cuti. Tapi katanya ia dan anak-anak baru akan menyusul sekitar bulan depan. Kemarin acara perpisahannya, juga para pegawai lain yang akan berangkat penugasan. Ada yang ke California, mungkin ini yang paling ditunggu-tunggu. Ada yang ke Timor Leste, paling sesuai bagi mereka yang ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Bu Fitri? Seperti yang aku katakan tadi, ia akan ikut suaminya, menjadi anggota dharma wanita, di KBRI Beijing.

Di tengah hiruk-pikuk acara perpisahan, di antara makanan-makanan yang lezat, aku sedikit mengobrol dengannya. Aku beri selamat, dia bilang akan mengabarkan kalau-kalau ada beasiswa untuk belajar di China. Wah…pucuk dicinta, ulam tiba! Belum pernah, seingatku, orang lain yang menawarkan akan memberi info beasiswa. Seringkali akulah yang memintanya. Semoga saja aku bisa menjalin silaturahmi selalu dengannya, dan benar-benar bisa memperoleh beasiswa belajar di sana. Siapa tahu?

***

Episode Perpisahan?

Ibu Estella menyalamiku ketika aku berpamitan dengannya. Seolah menangkap pikiranku selama ini, ia mengatakan, ”mungkin pekerjaan mengkliping itu remeh buat kamu, tapi itu berharga buat kami”… Jadi? Aku tidak mau berpikir panjang lagi kala itu. Yang terbayang hanyalah segera berpamitan pada semua staf yang ada dan berkonsentrasi untuk mencari bahan esok hari di Direktorat Mitra Wicara ASEAN. Aku pergi. Aku dapat banyak hal, meski hanya sedikit dari yang banyak itu yang bisa aku gambarkan.

Bagiku kenangan tidak akan terasa ketika perpisahan baru terjadi. Ia baru akan menganga lebar ketika kita bisa menertawakan atau menangisinya…tangis bahagia tentu saja…

-Selesai-

Iklan

Back for A While

Posted: 19 Mei 2008 in Uncategorized

This afternoon I plan to go home. A kind of homesick? I don’t think so. Even I have a slide of idea that this is God’s plan for me after doing many rude things around. Sometimes we just realize that what we have done are not good enough, but I am still in a believe that we can’t say something good before see or feel the bad one. Back for a while..even I have tried to find my new life by joining a teaching for children (well, it reminds me to the innocence of life)..even I have read for several books and blogs inspiring me so much..well, here are some: Samarkand by Amin Malouf and Max havelaar by Multatuli/ Douwes Dekker (for the last, I haven’t finished yet). “Back”.. I still confuse with this term. Sometimes I think to “go back” to the way I used to be, but I do believe that our life is just the same with our time; it runs and runs out without the ability to be returned.

So, friends, I ask you to bring me, sometimes, to your world for a while. Just to find out whether I can be your world’s new citizen. Perhaps you may ask, what’s wrong with my own world? Well, I’ve just put it to the Owner for having it repaired. Don’t worry then, because soon after it get repaired, I’ll be back…I’ll be back to my own world..better one, of course.

Five days ago ( exactly on Wed May 13th-14th, 2008 ) I attended an international conference in Universitas Indonesia, Depok themed “Freedom and Right of Return: Palestine and 60 Years of Ethnic Cleansing”. It was very exciting since it gathered many experts coming from several countries and institutions around the world. Some of them are Dr. Zahra Mustafawi (Coordinator of International Union of NGO’s Supporting Palestinians Right (a woman identified as a daughter of Ayatollah Khomeini)), Dr. Alex Awad (Bethlehem Bible College), Dr. Rev. Stephen Sizer (founding member of the Institute for the Study of Christian Zionism, UK), Rabbi Yisroel Dovid Weiss (Neturai Karta International, US), and Dr. Ahmed Mohamed-Mahmud Diab (member of Parliament fron Islamic Brotherhood, Egypt). The event was organized in cooperation by some non-governmental organizations such as Center for Middle East and Islamic Studies, Universitas Indonesia; Voice of Palestine (VOP); and NEDA Institute based in Tehran, Iran. For me it was an enriching experience especially in understanding that most long-standing issue in the UN Security Council.

The participants also came from different institutions. Most of them, I think, are the representatives of some Islamic organizations, such as Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, and Hizbut Tahrir Indonesia. The other participants, of course, are the official representatives of governments, like the representative of Foreign Affairs Department of Republic of Indonesia, ambasador Mihdawi of Palestine, and ambasador Kamalvandi of Iran. The rest? I believe no other than students.

One thing that I could get from the event is the same vision of those experts that the Palestinians should be able to return to their homeland. As we know, nowadays many Palestinians disperse to some other countries whether Arabs or outsides to safe themselves from the violative pressures made by Israeli’s troops to them, while the government of Israel, by using its military power, bans the Palestinian diasporas to return. No matter what religion they uphold, the speakers always yield the importance of togetherness in facing the condition in Palestine. Special impression was spread by the Rabbies who came at that time. I think this was caused, firstly, by their appearence (they used a black hat looked like a hat of Cowboy with long black blazer and high-reaching shocks) that seemed a bit weird for Indonesian who are mostly seldom to see it directly, and, secondly, by the ideas they shared to the audience. Although they are Jews, they indicate that not all Jews, including them, support Zionism, a movement generated by some other Jews that become the main proponent in establishing the state of Israel by causing catastrophe to the Palestinians.

The event inspires me to do something in promoting peace in Palestine and Palestinians right to return. I believe that it is the right of all human kind to have peace in their life and to go home whenever they fell they need to. That right is not merely the right that people need in doing their activities, rather it is the basic need of all human kind that come up from the deep of the heart. All of people need it, and have the right to realize it, too. I do hope that, by taking advantage from the moment of Dies Natalis Hubungan Internasional, Unpad, this November, I and some of my friends can organize an event that can awake students so that they have a concern about Palestinian issues and contribute in the movement harmonization among all who still realize that God blesses us with the beauty of heart. However, the same purpose I hope can be reached through this article that I made special for all of you, my friends, who are now reading this.

Bagian 5

Finally it came…

Namanya Fitri. Aku biasa memanggilnya Bu Fitri. Kadang terbawa oleh orang-orang kantor, Mbak Fitri. Di antara orang-orang Apasaf, dialah yang paling banyak ngoborol denganku. Bukan dari intensitasnya, tapi kalau sudah ngobrol, aku merasa lebih dekat saja dibanding dengan orang-orang kantor lainnya. Mungkin karena faktor keluarga. Ia punya adik seumuran denganku, kisahnya suatu pagi. Jarak usianya tentu jauh dengan Bu Fitri. Semasa kecil sang adik sudah ditinggal oleh kedua orang tua. Jadilah para kakak, termasuk Bu Fitri, benar-benar berusaha menjadi orang tua yang baik. Mungkin dalam diriku terbayangkan adiknya… Dan tidak lepas dari kebaikan Ibu Fitri-lah, akhirnya aku mengalami apa yang aku inginkan selama ini: ikut dalam diskusi para diplomat dan para ahli yang diundang.

Selasa itu aku datang tidak terlalu pagi. Bu Ratna, sekretaris Ibu Estella, sang Kepala Pusat Aspasaf, memberitahuku segera. Bu Fitri mengajak aku ikut diskusi, di ruang rapat, lantai dua. Sekarang saja, mungkin bisa bantu-bantu di sana. ”Baik Bu.” Entah seberapa membaranya semangatku kala itu. Aku langsung menuju lantai dua dari lantai tiga tempat Aspasaf berkantor. Di sana sudah ada Bu Fitri, Pak Eko (Kepala Sub Bagian Timur Tengah), Pak Nyoto (salah seorang staf Pak Eko seperti juga Bu Fitri), dan beberapa staf lainnya. Satu dari tiga pembicara telah datang, namanya Pak Broto. Ia dari Universitas Indonesia (UI), jurusannya sama denganku, Hubungan Internasional, baru saja menamatkan S2-nya di Israel. Wow! Diskusi kali ini memang mengambil tema tentang konflik internal Palestina. Maka, bagiku yang sangat suka dengan prestasi orang-orang, S2 di negeri penjajah yang tidak mudah dimasuki itu menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa. Dan ia berhasil menyelesaikannya, … hidup-hidup!.

Waktu-waktu berikutnya orang-orang mulai berdatangan. Yang paling aku suka, ternyata (hampir) semua pejabat di BPPK hadir. Ibu Arta, sang kepala badan, malah yang membuka diskusi itu. Tentu saja, yang menjadi perhatianku adalah Ibu Estella. Entah mengapa, aku sangat tertarik padanya. Tertarik secara personal? Mungkin saja, yang jelas dia belum terlalu tua, tapi sudah bisa menjadi seorang direktur. Seorang eselon dua. Dalam pandanganku, seorang yang berpangkat eselon dua pastilah seorang pejabat tinggi. Dan hari itu dia berperan sebagai moderator. Bukan sombong, tapi aku sangat ingin mengetahui seberapa kritis dan cerdas dia. Di forum diskusi inilah aku bisa melihatnya…meski belum bisa menggambarkan keseluruhan tentu saja. Dalam bayanganku, dia begitu cerdas dan gemilang… Maka keinginanku itu sebenarnya hanyalah salah satu bentuk konfirmasi atas pendapatku itu.

Aku tidak menyangka, meski nampaknya sedikit disesalkan karena ternyata ketiga pembicara juga sama-sama menjadi pengajar di UI, ketiga pembicara itu benar-benar para pakar di bidang Timur Tengah, terutama Palestina. Salah satunya Pak Lutfi, dia sering berperjalanan ke kawasan tersebut, bahkan pada tahun 1991 pernah masuk ke Tel Aviv, ibu kota Israel. Yang lainnya lagi, Pak Hamdan, dia harus menolak undangan seseorang dari kementerian luar negeri Amerika Serikat yang jauh-jauh datang dari negerinya untuk mengobrol tentang pandangannya terhadap Palestina dan memilih datang ke acara diskusi BPPK itu. Tentu saja karena sudah terjadwalkan terlebih dahulu.

Dan kehebatan-kehebatan mereka pun nampak. Baik dari materi yang disampaikan hingga forum tanya-jawab berlangsung, apa yang mereka sampaikan sangat menyentuh pada inti dari permasalahan yang dimaksud. Mereka dapat menemukan detil yang menjadi simpul dari rangkaian masalah panjang di Palestina. Dan pertanyaan-pertanyaan dari para diplomat yang hadir sudah bisa aku tebak; Mereka cenderung mempertanyakan masalah-masalah praktis ketimbang teoritis. Tentu saja, dan itu wajar, karena memang itulah yang diperlukan oleh para praktisi seperti diplomat. Meski begitu, beberapa pertanyaan nampak dilematis; sangat cerdas aku pikir.

Aku tidak berkutik. Aku diam, mendengarkan mereka berbicara dan berdiskusi. Aku hanya ingin memainkan peran layaknya seorang notulen. Tidak ada yang memerintahkan aku demikian, Bu Fitri sekalipun. Tapi aku mau, dan ternyata memang aku diminta mengetik apa yang telah aku catat. Sebenarnya aku boleh saja bertanya, seperti kata Bu Estella setelah acara berakhir. Tapi aku pikir tidak mungkin. Bagaimana bisa, mereka bertanya seperti kereta yang ga putus-putus. Sangat berapi-api pula. Aku berprinsip, jika aku ditawari pada saat itu juga, aku baru bertanya. Bukan berarti aku ingin diistimewakan. Pada kenyataannya, siapalah aku. Seorang mahasiswa yang ingin belajar. Itu saja. Kalau dalam istilah politik, aku hanya ingin menjaga status quo dan bertindak sesuai perintah. Tidak ada ’perintah’ bertanya? Diamlah. Hari itu aku akhiri dengan kebahagiaan dan kepuasan. Meski harus pulang lebih sore dari hari-hari sebelumnya karena ternyata yang aku catat lumayan banyak juga, akhirnya aku punya sebuah cerita yang bisa aku bagi nanti kepada kawan-kawan Jatinangor-ku.

***