Arsip untuk November, 2008

Klaim terhadap Palestina

Posted: 30 November 2008 in Uncategorized

Beberapa hari lalu, tepatnya ketika saya sedang sibuk mengurus penyelenggaraan talk show Conformeast, HI Unpad, bersama teman2, saya membuka blog milik Ibu Dina Y. Sulaeman, salah satu pembicara yang diundang dalam acara tersebut. Di dalam blog beliau saya mendapati sebuah tulisan yang mengangkat tema tentang Palestina: siapa yang berhak memiliki Palestina? Apa yang diangkat dalam tulisan beliau memiliki inti yang sama dengan apa yang saya baca dari website yang dimiliki oleh Benjamin Netanyahu, mantan Perdana Menteri Israel, yaitu latar sejarah yang menjadikan sebuah bangsa berhak atau tidak tinggal di suatu wilayah. Latar sejarah itu bermakna apakah nenek moyang bangsa yang saat ini mengklaim, sudah tinggal di wilayah tersebut sebelum siapapun. Topik ini memang menjadi salah satu topik besar yang mengundang perdebatan. Ini petikan yang paling saya suka dari tulisan Ibu Dina: (bisa diakses secara penuh di sini)

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan, yang kurang lebih berbunyi, “Bukankah memang Palestina itu zaman dahulu kala memang tanah milik kaum Yahudi? Karena itu, mereka memang berhak untuk kembali ke Palestina dan mengambil lagi tanah mereka.”

Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya sangat simple. Misalnya, bukankah bangsa yg lebih dulu hidup di Indonesia orang2 Yunan (Cina Selatan)? Apakah boleh mereka kini datang ke Indonesia dan mengklaim lagi tanah yang dulu pernah dihuni nenek-buyut-moyang mereka?

Dari analogi pertanyaan di atas, saya berpendapat bahwa topik sejarah-nenek-moyang seperti ini berpotensi membelokkan dari isu sebenarnya, yaitu penjajahan Israel terhadap rakyat Palestina (banyak laporan, artikel, gambar, video yang memperlihatkan bagaimana tentara Israel memblokade wilayah2 Palestina sehingga benar-benar memutus jalur logistik mereka; melakukan tindak kekerasan terhadap para pria Palestina; merobohkan pohon2 dan merusak ladang milik warga Palestina). Karena, meskipun secara ilmiah wilayah Palestina pertama kali didiami oleh nenek moyang orang Palestina ataupun Yahudi (bahkan ini pun menyesatkan karena Palestina sendiri merupakan sebuah bangsa sedangkan Yahudi adalah agama: apakah saya yang Melayu muslim sudah bisa dipastikan memiliki nenek moyang (biologis) yang berbeda dengan teman saya, yang juga Melayu, tapi memeluk agama Kristen? Bahkan saya memiliki saudara dekat yang beragama Kristen dan Katolik..), masalahnya adalah telah terjadi pelanggaran kemanusiaan terhadap orang-orang Palestina oleh tentara Israel. Ini yang harus menjadi perhatian. Sebagai sebuah alat negara, tentu tentara Israel merepresentasikan sebuah negara yang baru dibentuk pada tahun 1948 di sebuah wilayah yang tadinya hubungan sosial antara Muslim, Yahudi, dan Nasrani dalam kondisi baik.

Saya tidak sempat menukilkan tuliasan Netanyahu di sini (bagi yang tertarik bisa search sendiri ya,,hehehe). Yang jelas, dia berupaya keras membangun alur logis bahwa tanah Palestina sudah diduduki orang2 Yahudi sejak dahulu kala, sebelum bangsa Palestina datang.

Maka, membicarakan topik asal-usul ini penting, tapi jangan sampai saat kita membicarakannya, kita melupakan nasib anak2 yang kehilangan sekolah dan gambar-gambar indah pemandangan bukit strawberry dan zaitunnya,,

Iklan

Cafe: My New Lifestyle

Posted: 22 November 2008 in Uncategorized

The tittle is so catchy, isn’t it? Hahaha,,seems that I am the cafeholic one,,

This money-consuming hobby, I will call it cafeying, began when one of my friends asked me to have lunch together at CherrysCorner cafe. There I saw not only people mingling with their friends but also using internet hot spot. Hm,, as the new comer in the internet-freak club, sitting in a cafe while surfing and blogging is a pleasure for me. Since that time, I couldn’t wait to visit any cafe providing hot spot facility. However, God asked me to be more patient, I think,, My notebook didn’t work properly,,wifi couldn’t connect me to the internet,,I had tried to change my place, my position (hehehe), but it didn’t make the thing any better,,

(ups,,sory,,intermezo, the song in this cafe [yes, i’m cafeying right now] is Aura’s Mari Bercinta,,huhuhu,,so disgusting,,:-&)

I tried to ask my friend who know notebook stuff better than me. He worked hard, I realized,, a lot of sweat in his head? Unfortunately not,hehehe. No result. My notebook still can not be used in any hot spot..

There were two possibilities: first, it was because of the hardware that was broken, or, second, there was a crash of operating system inside.

My other friend suggested me to go to HP service center soon. I did. Thanks God that there was not something wrong with the hardware,, So the only reason at the time was because of the OS problem. After a daunting operation (it sounds so dramatic, doesn’t it?), finally my notebook can be used again now,,

And cafe to cafe road is started,,

I find that there are four hot spot-facilitated cafe in Jatinangor,, First is Cherryscorner,, it is located a bit far away from my dorm,, the foods are good, some of them are expensive, though,, unfortunately there are just four electricity sources there,, however, the place is so comfortable with slow musics as back sound.

The second cafe is safari. it has a wider area, but there just a little who visit it. I don’t know why, since if it is because of the prices, cherryscorner is also the same,,expensive! I predict it is because of the location, since safari is not located in the main street.

Another place is Shofa cafe,, it also provides the similar foods, but it has a unique side. Shofa is well-known for it being a cafe of milk,, hmm,, healthy cafeying then,,

The last is Cafe Daun,, this is where i am now,, it is a new one,, posited in the road side, so it is noising here,, the special thing from this cafe is the price,, it provides the consumers with the metro-civilized foods while it also provides us with the reachable foods and drinks for student like me,,

I haven’t discover a lot. so i think i’ll find many others around,, Cafeying is relaxing,,our mind, our wallet,,hahaha

(perbaikan atas posting beberapa waktu lampau)

It is my conclusion after returning from Semarang few days ago. I went to the city with my sister and met with my mom there. We decided to return to Tegal by using bussiness class train in order to make the journey shorter. We believed that bus will need more time to transport us. Our calculation, we would be in Tegal for about 2,5-3 hours later. You need to be carefull with your own expectation,,

210920083482

This picture shows the condition inside of the train I used


What happened at that time is that it took longer time than we expect. Even it was longer than our calculation on bus. We kept struggling to survive inside of the slow-moving train for about 4 hours. The condition was not conducive since we (actually just me myself) couldn’t break fasting with the complete meal soon. Above all, the most critical was the slowlyness of the train. I recognized that it was not an executive class, hence it should give the rail for the executive at first. But I didn’t use any economic, too. What I want to say is, there must be miss management about it. This will not bring better benefit as long as PT KAI (Kereta Api Indonesia) still preserve its behavior. Many bussinesses will be in trouble then,,

Perdagangan Anak

Posted: 7 November 2008 in Uncategorized

Baru saja saya menonton sebuah film documenter yang dibuat oleh Yayasan Jurnal Perempuan bekerjasama dengan berabagai lembaga lain seperti LBH APIK Pontianak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, dan UNICEF. Secara keseluruhan film tersebut bercerita tentang human trafficking yang menjadikan wanita sebagai objeknya. Salah satu bagian yang paling menyentuh, di antara semua bagian yang menyentuh itu, adalah cerita dari seorang anak berusia 14 tahun yang dipekerjakan menjadi seorang pekerja seks di Batam. Cerita lain yang tidak kalah mendorong semangat saya untuk membantu korban-korban sejenis adalah kisah seorang wanita bernama Lita yang memiliki anak dari pernikahan transnasional dengan seorang Malaysia tanpa dokumen pernikahan resmi dan anaknya hendak dijual oleh penadah penjualan anak.

Sebut saja Mawar. Mawar adalah gadis berumur 14 tahun yang sudah harus mengalami perlakuan seksual yang tidak tepat. Awalnya ia tidak tau apa-apa, kemudian oleh sang Mammy dikatakan bahwa ia memiliki hutang sebesar sejumlah rupiah tertentu yang harus ia bayar. Merasa tidak mempunyai pilihan lain, Mawar dengan terpaksa mau menjadi pekerja seks. Perlakukan seksual yang diterimanya dari pria-pria yang datang tidak jarang sangat menyiksa Mawar. Bahkan, suatu ketika Mawar pernah terjangkit penyakit Jengger Ayam dan ia harus mengobatinya sendiri. Mawar bercerita bahwa ia masih punya cita-cita untuk menjadi seorang Polwan, sementara adiknya ingin menjadi dokter dan pramuria.

Lain Mawar, lain Lita. Lita sudah lebih dewasa dari Mawar, namun ia menghadapi masalah yang tidak kalah berat. Ketika bekerja di sebuah kedai kopi di Malaysia, ia bertemu dengan seorang berkewarganegaraan Malaysia yang memberikan perhatian padanya, terutama sangat ia rasakan ketika pasportnya sudah hampir habis. Pria tersebut mengajak Lita menikah. Enam bulan kemudian Lita hamil. Awalnya nampak normal-normal saja kehidupan mereka. Namun masuk pada bulan ketujuh kehamilan Lita, suaminya jarang mengunjungi, hingga akhirnya tidak mengunjungi Lita sama sekali. Di tengah keputusasaan ia bertemu dengan seseorang yang menawarinya untuk tinggal di sebuah tempat penampungan. Di luar dugaan Lita, ternyata tempat pemanmpungan itu diperuntukan bagi anak-anak yang hendak dijual. Lita sangat putus asa. Ia ingin sekali kabur dari tempat itu namun sangat tidak mungkin mengingat tingginya tembok dan pagar, ditambah ia harus membawa serta anaknya yang masih bayi. Syukur saja, sebelum anaknya terjual, polisi berhasil menggrebek tempat penampungan tersebut. Meski sudah bisa keluar dari tempat itu, Lita masih harus menghadapi masalah lain. Ia dipenjara karena tinggal di Malaysia tanpa dokumen resmi. Setelah menjalani hukuman, Lita akhirnya mampu kembali kepada keluarganya dengan bantuan dari Yayasan Jurnal Perempuan.

Masalah-masalah tersebut hanya contoh kecil dari banyak masalah yang terkait dengan human trafficking di Indonesia. Hingga saat ini semakin banyak orang yang bersimpati terhadap masalah tersebut, hingga mendorong munculnya berbagai LSM yang terus bergerak untuk mengatasi berbagai masalah human trafficking ini. Menurut saya, isu ini bisa menjadi isu penting dalam masa-masa kampanye politik seperti saat sekarang. Mengapa? Karena tidak hanya LSM saja yang harus bergerak, pemerintah pun demikian. Bahkan pemerintah memiliki tanggung jawab yang besar dalam hal ini karena ia mempunyai otoritas dan kapabilitas untuk menegakkan berbagai aturan. Calon pemimpin di masa mendatang harus lebih peduli terhadap masalah-masalah semacam ini, baik secara langsung, seperti melalui pembuatan kebijakan yang terkoordinasi dengan semua lembaga mengenai pencegahan dan penanganan human trafficking, maupun secara tidak langsung, yaitu dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama mereka yang tinggal di tengah kemiskinan pedesaan.

Suddenly Thinking Bout Love

Posted: 3 November 2008 in Uncategorized

Lihat aku di sini

Kau lukai hati dan perasaan ini

Tapi entah mengapa

Aku bisa memberikan maaf pada mu

Mungkin karena .. cinta…

Padamu, tulus dari dasar hatiku

Mungkin karena .. aku…

Berharap kau dapat mengerti cintaku

Lihat aku di sini

Bertahan walau kau selalu menyakiti

Hingga air mataku

Tak dapat menetes dan habis terurai

Mungkin karena .. cinta …

Padamu, tulus dari dasar hatiku

Mungkin karena aku

Berharap kau dapat mengerti cintaku

Meski kau terus sakiti aku

Cinta ini akan selalu memaafkan

Dan aku percaya nanti engkau

Mengerti bila cintaku takkan mati

Okey, that is the lyric. I listened to that music, sung by Rama, a band from Cirebon (Pranadi de Duke of Cirebon and “Jafar de Jakarta” come from there) when I was reading files in my notebook. Suddenly I thought about love…

n1145210363_165605_5909

(me, Jafar de Jakarta, and Pranadi de Duke of Cirebon)


Hmm,, this is not ordinary love actually. What I mean is God’s love for His creatures. As I know, God’s love is unlimited. And “love will always forgive”, just like Rama said,,

Following my thinking, there will be no people obeying His guidance, then, since they will think that whatever they do will be forgiven.

But, anyway, I still think on that, and I begin to believe it. I don’t think to disobey His guidance, or, I don’t have a plan to do so. But, it is so freeing if it so. For me, it is logic that when you love somebody, and he or she makes a mistake, then even you get angry with him or her, you will never left him or her behind. It means that we never have our forgiveness “sold out”. And forgiveness means that the hard feeling disappears. It backs to the happiness as it is to be. After all, it all just my thinking,,

November 1, 2008