Arsip untuk November, 2010

a western culture

Posted: 27 November 2010 in Uncategorized

dulu, waktu gue masih sd, kalau ditanya apa itu komunisme jawabannya pasti gak jauh2 dari “paham yang tidak percaya pada agama.” terus, kalau ditanya apa itu liberalisme, gue jawab, “paham yang mengutamakan individualisme.” such a permainan-diantara-dua-ekstrim right? dan kita sering menganggap what we have is the middle way, the most consolidated way, and that’s why, the best way.

I recognize it as “kesadaran yang dibangun” (gue lagi menghindari terlalu banyak memakai kata construction dan gak mau pakai kata “indoktrinasi”). yang menjadi masalah, kita dikondisikan seolah2 kitalah yang berada di posisi tengah itu. the judges. in fact, we are the player. and its good to be the player. sayang, politicians, public officials, tidak menyadari betapa luar biasanya hidup sebagai pemain.

I love Glee (HOOOYYY… the gleek!!! gue gabung!! hahaha). Yes, I love Glee series. I love the voice, I love the moves. dance, yes! absolutely,,hehehe. but one thing that i love the most from glee… the way they solve the problem.

ah, the gleek pasti sangat hapal perdebatan2 sengit antara Schuester dan Sue Silvester yang terjadi di ruang kantor kepala sekolah. mereka sangat terbuka menyatakan keberatan, ketidaksepakatan, ketidaksukaan, atau juga argumen yang mendukung ide2 mereka: mengapa sekolah harus mendukung biaya sewa bus khusus untuk anggota glee; mengapa the cherios harus mendapat perhatian utama dari sekolah; so on and so forth.. di antara hiruk pikuk itu, they still go to the principal room, delivering their arguments, and let the principal do the adjudication.. BRAVO!! so elegant, isn’t it? Bagaimana Obama dan McCain berusaha meyakinkan peserta di ruangan dan masyarakat AS secara keseluruhan untuk akhirnya memilih salah satu di antara mereka? Siapa yang Palin coba yakinkan ketika ia berusaha menghayati betapa dia tinggal “face-to-face” dengan pesaing klasik AS, Rusia, di Alaska dan karenanya ia sangat tahu bagaimana seharusnya bersikap dalam hubungan tradisional dengan negara nuklir itu untuk meng-counter daya tarik Biden dalam mengupayakan pemberian jaminan kesehatan yang lebih baik kepada rakyat AS?

This is one of the biggest problem our country has been being trapped in. this will get worse, if… if, we don’t change the way we look ourselves. and no other way than reforming our education. no more self-centric middle way indoctrination. no more scared to free the logic up. People, lets move! lets move on! western has something good. lets be open!right?

Iklan

Wanita

Posted: 14 November 2010 in Uncategorized

Inspirasi datang dari mana saja. Entah kenapa, inspirator2 gue kebanyakan wanita, selain Presiden AS yang baru saja berkunjung ke Indonesia beberapa hari lalu, Barack Obama, dan mentor gue di kantor. Ada Sri Mulyani, Condoleezza Rice, Oprah Winfrey, Michelle Obama, dan Hillary Clinton. Padahal, gue lagi getol2nya menolak kepercayaan bahwa di balik kesuksesan pria ada kekuatan wanita. Jadi, apakah ini tanda2 supaya gue, lagi2, mengalah pada konstruksi kepercayaan umum? hehehe…gak juga… Sebenernya yang bikin gue admire mereka adalah karena mereka wanita, tapi mereka bisa berkata “ya” untuk berjalan di jalannya sendiri. Ah, untuk yang ini memang gak cuma wanita, pria pun kadang harus merasa tertindas oleh destructing factors yang akhirnya seems like menghambat pencapai2an2 yang seharusnya bisa lebih dari apa yang sudah dicapai… but believe me, wanita memang memiliki masalah yang lebih serius. (bersabarlah untuk kawan2 wanita yang sudah gelisah menginjak usia 24 tahun dan belum memiliki pendamping hidup).

Seperti tulisan ini, gue terinspirasi oleh blognya Mbak Ollie (dia si nulisnya gitu di blognya… gue gak kenal si sama dia.. nama blognya salsabeela.com). Tulisan2nya sangat membangun dan mendorong semangat gue untuk terus menulis. Mbak Ollie bisa menceritakan pengalaman2nya, yang mungkin juga sering kita alami, dengan cara yang sederhana dan enak untuk diikuti. Karena caranya yang sederhana ini gue suka. Dibaca2, ternyata dia seorang enterpreneur yang bergerak dalam bidang teknologi (gue nyebutnya gitu yaa…. dia banyak bicara tentang startup, online business, dll). Pergaulannya juga sangat luas. Dia terlibat dalam satu kelompok pengembang kreatif yang melibatkan banyak kreator muda dari negara2 maju dan berkembang. Ah, gue paling suka hal2 yang mendukung keterbukaan pemikiran…dan mbak Ollie ini gue lihat adalah salah satu orang brilian yang terbuka pada kemajuan…

Membaca beberapa tulisannya Mbak Ollie membuat gue berpikir, apa sih yang sebenarnya sering menghambat kita untuk maju? gue menemukan jawaban, “diri kita sendiri.” Iya, sering gak sih, kita lebih dulu mikir hambatan2 yang mungkin kita temui sebelum kita memulai sesuatu? Ok, mungkin kita juga harus antisipasi, tapiii… yang sering terjadi, pemikiran tentang hambatan2 itu bukan berakhir pada persiapan untuk menghadapi kalau2 hal itu memang terjadi tapi lebih pada rasa takut untuk memulai. Gue jadi inget kata2nya Kang Agi yang bilang dia pengen kaya Elisabeth Gilbert yang hidupnya diisi dengan jalan2 keliling berbagai negara di dunia, menikmati eksotisme budaya yang berbeda-beda… Karena lingkungannya yang konservatif (gue yakin mostly dari kita hidup dalam konservatisme “bekerjalah pada institusi atau corporate yang established”), dia belum bisa mewujudkan passion-nya itu. Gue selalu bilang, “if you want something, just go for it!” Malah, kadang gue mikir, gudgements are also in our sphere of control. Bukan berarti kita bisa mengendalikan orang lain untuk memberi gudgement atau tidak pada kita, tapi our perception toward those gudgements itu yang sangat2 bergantung pada diri kita sendiri.

So? Wanita2 yang sudah gue sebutin di atas buat gue adalah contoh, bahwa everything is under our control, seperti yang dibilang Rice, they are extraordinary ordinary people…